Kamis, 28 Juni 2012

RAIMUNA DAERAH VI SUMATERA SELATAN



Raimuna daerah

 
Opening Ceremony


Bumi Perkemahan yang gersang maksimal


Kegiatan Sosialisasi


Permainan Persahabatan


Pentas Seni


Karnaval


Ramah Tamah


Kembang Api di Malam Terakhir


Api Unggun Raimuna Daerah







ASRAMA TAN 7


Ya Allah, makasih buat semuanya. Hari ini, tanggal 21 april 2012 adalah hari yang luar biasa, dari pagi yang ceria sampai ke pagi lagi dan jauh lebih ceria. Diawali dengan subuh yang sepi, semangat pagi untuk piket, mood baik buat menyapa semua warga asrama yang ngumpul di kantin buat sarapan. Lalu, lalu, lalu dengan semangat untuk bersenam pagi bersama warga SMANTI tercinta.
Mungkin, hari ini hari dimana semangat Perisai Diri yang aku miliki menguap-nguap. Biasanya aku yang diseret setiap pagi untuk melaksanakan latihan, tapi kali ini mereka yang aku teriaki untuk latihan.
Gladi buat acara wisuda! Kkkyyyaaa, main angklung yang super gede! Terus sedikit ngelawak dan ngobrol seru sama ketos dan anak-anak musik lainnya. Luar biasa menyenangkan !
Balik ke asrama dengan senyum sumringah yang aneh tapi yahut, menebarkan canda tawa kesegala celah dan pori-pori di asrama. Sebelum ke kamar, ngelawak dikit bareng Dessy dan dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol sama mba’Malsi. Disela obrolan, ada sebuah nomor telpon yang menelpon hp jadulku, segera ku angkat. WTH! Demi apa ini orang langsung maki-maki gajelas, dan tereennnnnggg, masuklah seorang manusia dari kamar sebelah dengan memegang handphone sambil tertawa. Hei! Aku dikerjai, itu mba’kelas ku yang ada di sebelah kamarku.
Selanjutnya, ku rasa aku tak perlu makan siang karna aku tak punya uang. Ku putusku untuk tidur! Belum sampai satu jam aku tidur, ternyata sudah hampir jam 3, aku harus bersiap untuk latihan Perisai Diri.
Galau gila, antara latihan PD ato persiapan perpisahan! Yaudah, setelah berpikir ‘agak’ panjang, aku putusin buat latihan PD. Selesai latihan sekitar jam setengah enam. Lalu bergegas lah aku ke asrama, dan ternyataaaaa... semua udah pada kumpul, oke tanpa mikir lagi, aku mandi. Selesai mandi, kita shalat bareng.. dan bret bret bret, tibalah saat perpisahan!
Pertama doa, terus makan-makan deh .. disela makan-makan, ada yang photo-photo, ada yang galau.. and so many others.. yap, makan-makan selesai. Dilanjutin dengan nonton sedikit slide yang udah dibuat ka’Dani.. lanjut dengan nonton film, dan entah film apa . . . yang pasti ga terlalu konsen buat nonton itu film.
Tapi, yang paling ga bisa dilupain itu saat dimana kita sharing . . . jreng jreng jreng, gada hal yang terlalu memberi dampak sih ke aku nya, tapi efek sharing itu lho yang bikin suasana haru biru. Setelah sharing, kita peluk-pelukan ala alay-alay gimana gitu. Hmm, semuanya nangis kecuali aku dan ayu, entah kenapa padahal aku ngerasa bener-bener sedih lho.
Moment paling nyentuh waktu aku salaman sama ka’Dhimas Wicaksono, matanya berkaca-kaca, subhanallah, terharu maksimal ngeliatnya!!!
Ada juga moment aneh, lucu, sedih, haru, semuanya deh,, yaitu sewaktu ka’Ridho nangis! Demi apapun, ini apa yang terjadi, kenapa dia nangis segitu hebohnya.. ???
Disitu, ada sedikit hal yang agak disesali sih, kenapa aku ga mau diajak foto sama -----, padahal udah ditawarin!! Kkrrr, bego!!. Terus, kenapa juga ga jujur waktu itu.. hmm..
Intinya sih, aku sayang Asrama, sayang juga sama MAKHLUK-MAKHLUKNYA! Aku harap, aku dan temen yang lain bisa ngelaksanain amanah ato pesen dari kakak ato mba asrama yang udah mendahului kita :D
Oh iya, makasih juga ya udah kasih banyak pelajaran baik mengenai mandiri atau individualisme sampe kemasalah tenggang rasa dan toleransi.
Sayang kalian semua mba-mba dan kakak-kakak ku!
SAYANG MBA’EKA, MBA’DWI, MBA’WE, MBA’SUVMA, MBA’NADIA, MBA’SHERLY, MBA’ANA, MBA’DIAN, MBA’MALSI, MBA’ICA, MBA’TITI, MBA’TRES, KA’ALDO, KA’DODO, KA’DHIMAS, KA’HERU, KA’RIDHO, KA’RAMA, KA’RINTO, KA’ROBBY, KA’IJAL, KA’RIJAL, dan KA’ILHAM !! :) 




Senin, 02 April 2012

Sejarah Lagu Kebangsaan Indonesia Raya

  • “Indonesia Raya” sebelum 17 Agustus 1945.
1. Lagu “Indonesia Raya” adalah gubahan komponis Muda Indonesia bernama Wage Rudolph Soepratman.
2. Almarhum Wage Rudolph Soepratman adalah seorang guru dan juga pernah menjadi wartawan surat kabar “Kaoem Moeda” dan pengarang buku. Sejak kecil Soepratman gemar sekali bermain biola.
3. Wage Rudolph Soepratman adalah putra seorang sersan Instruktur Mas Senen Sastrosoehardjo. Soepratman dilahirkan di Jatinegara pada tanggal 9 Maret 1903 dan meninggal dunia pada malam selasa tanggal 16 Agustus di Surabaya.
4. Semangat nasional telah mengisi seluruh jiwa Soepratman pada waktu itu. Semangat yang berwujud kemauan ingin menciptakan Lagu Kebangsaan. Akhirnya ia dapat menciptakan Lagu Indonesia Raya.
  1. Lagu Indonesia Raya tiu dipersembahkan oleh Soepratman kepada masyarakat di dalam konggers Pemuda Indonesia tanggal 28 Oktober 1928 di Gedung Indonesiche Club, Jln.Kramat 106 Jakarta. Lagu Indonesia Raya untuk pertama kali diperdengarkan dalam Konggres itu sesuai pula dengan semangat Persatuan Pemuda yang menyala-nyala pada waktu itu, maka ketika Lagu Indonesia Raya diperkenalkan kepada peserta konggres, dengan serta merta lagu itu mendapat sambutan yang hangat sekali.
  2. Sejak tiu pada tiap-tiap pertemuan Pemuda Indonesia selalu dibuka dan ditutup dengan Lagu Indonesia Raya. Semua Organisasi Rakyat Indonesia, Partai Politik, Organisasi Pemuda, Wanita, Kepanduan (Kepramukaan), seluruh rakyat Indonesia yang sadar, mengakui lagu Indonesia Raya sebagai Lagu Kebangsaan.
  3. Pada jaman penjajahan, Lagu Indonesia Raya sering dilarang, dihalang-halangi oleh Pemerintahan Kolonial Belanda oleh suatu ketika Pemerintah Jepang di Indonesia. Pemerintah Belanda telah pula meminta agar kata-kata dalam lagu Indonesia Raya diubah. Akan tetapi berkat semangat perjuangan dan Peraturan Rakyat dan Pemuda Indonesia segala rintangan itu dpata dilenyapkan
  • “Indonesia Raya” setelah 17 Agustus 1945.
  1.  Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, Lagu Indonesia Raya ditetapkan sebagai Lagu Kebangsaan. Lagu Kebangsaan Indonesia Raya selama perang Kemerdekaan telah merupakan sublimasi pengorbanan perjuangan rakyat dan Pemuda Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan serta menegakkan Kemerdekaan.
  2. Dalam Undang-Undang Dasar sementara Republik Indonesia tahun 1950 pasal 3 ayat 2 Lagu Indonesia Raya ditetapkan dengan resmi sebagai Lagu Kebangsaan Indonesia.

Monumen Nasional

Menurut sejarahnya, bangunan setinggi 128,70 meter ini dibangun pada era Presiden Sukarno, tepatnya tahun 1961. Awalnya, sayembara digelar oleh Sukarno untuk mencari lambing yang paling bagus sebagai ikon ibukota negara. Sang Presiden akhirnya jatuh hati pada konsep Obelisk yang dirancang oleh Friederich Silaban. Namun saat pembangunannya, Sukarno merasa kurang sreg dan kemudian menggantinya dengan arsitek Jawa bernama Raden Mas Soedarsono. Sukarno yang seorang insinyur mendiktekan gagasannya kepada Soedarsono hingga jadilah Tugu Monas seperti yang dapat kita saksikan saat ini.

Proyek mercusuar pembangunan Monumen Nasional tersebut sesungguhnya dilakukan saat kondisi keuangan negara dalam masa kritis yang sangat hebat. Pada saat itu, Sukarno juga tengah mengerjakan proyek lainnya yang mungkin dianggap lebih ‘mulia’, yakni pembangunan Masjid Istiqlal, masjid terbesar se-Asia Tenggara. Dihadapkan pada pilihan sulit, akhirnya Sukarno lebih memilih merampungkan proyek Tugu Monas daripada rumah Allah tadi. Uniknya, kedua proyek besar tersebut selesai saat Presiden Sukarno sudah tidak berkuasa lagi pasca pemberontakan G 30 S PKI.


5 Hal Yang Harus Diketahui Tentang Monas :
1. Ukuran dan Isi Monas
Monas dibangun setinggi 132 meter dan berbentuk lingga yoni. Seluruh bangunan ini dilapisi oleh marmer.

2. Lidah Api
Di bagian puncak terdapat cawan yang di atasnya terdapat lidah api dari perunggu yang tingginya 17 meter dan diameter 6 meter dengan berat 14,5 ton. Lidah api ini dilapisi emas seberat 45 kg. Lidah api Monas terdiri atas 77 bagian yang disatukan.

3. Pelataran Puncak
Pelataran puncak luasnya 11x11 m. Untuk mencapai pelataran puncak, pengunjung bisa menggunakan lift dengan lama perjalanan sekitar 3 menit. Di sekeliling lift terdapat tangga darurat. Dari pelataran puncak Monas, pengunjung bisa melihat gedung-gedung pencakar langit di kota Jakarta. Bahkan jika udara cerah, pengunjung dapat melihat Gunung Salak di Jawa Barat maupun Laut Jawa dengan Kepulauan Seribu.

4. Pelataran Bawah
Pelataran bawah luasnya 45x45 m. Tinggi dari dasar Monas ke pelataran bawah yaitu 17 meter. Di bagian ini pengunjung dapat melihat Taman Monas yang merupakan hutan kota yang indah.

5. Museum Sejarah Perjuangan Nasional
Di bagian bawah Monas terdapat sebuah ruangan yang luas yaitu Museum Nasional. Tingginya yaitu 8 meter. Museum ini menampilkan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia. Luas dari museum ini adalah 80x80 m. Pada keempat sisi museum terdapat 12 diorama (jendela peragaan) yang menampilkan sejarah Indonesia dari jaman kerajaan-kerajaan nenek moyang Bangsa Indonesia hingga G30S PKI.

Sukarno yang terkenal flamboyan saat itu lebih memilih Monas karena merupakan simbol phallus raksasa. Tidak aneh jika simbol ibukota negaranya adalah simbol kejantanan seorang pria (phallus). Sukarno adalah seorang visioner yang tidak tanggung-tanggung dan berpandangan jauh ke depan. Dia tidak membiarkan pembangunan phallus/lingga sendirian. Saat bersamaan, dia juga memerintahkan pembangunan ‘pasangannya’, yakni Yoni sebagai simbol perempuan, tepat di atas Monas. Jadilah Monas seperti yang terlihat sekarang, sebuah bangunan lambing penyatuan Lingga dan Yoni, simbol laki-laki dan perempuan.

Menurut penuturan Dan Brown dalam novel fenomenalnya, penyatuan Lingga dan Yoni merupakan ritus purba seksual, Persetubuhan Suci (The Sacred Sextum). Ini adalah ritual tertinggi bagi kelompok-kelompok penganut Luciferian (penyembah setan) seperti halnya Ksatria Templar dan Freemasonry.

Monas adalah The Sacred Sextum
Tugu Monas hanyalah salah satu dari obelisk-obelisk lain yang tersebar di pusat-pusat kota seluruh dunia. Obelisk tertua berasal dari kebudayaan Mesir Kuno, simbol menjulang menuju dewa tertinggi bangsa pagan purba (dan modern). Selain Kairo dan Jakarta, obelisk asli Mesir dapat kita saksikan di ibukota penguasa dunia saat ini, Washington DC Amerika Serikat. Lokasinya tepat di depan Capitol Hill tempat presiden-presiden Amerika terpilih mengucapkan sumpahnya secara turun-temurun. Obelisk atau phallus juga bisa kita jumpai tepat di tengah lapangan Basilika Santo Petrus, Vatican City, negara tempat pemimpin umat Katholik Roma sejagat raya. Phallus modern juga dapat berupa obelisk baja yang menjulang di tengah-tengah ibukota Perancis, Paris berupa Menara Eiffel.

Obelisk adalah simbol kejantanan, kekuatan, dan kekuasaan
Jika kita cermati bersama, keberadaan Tugu Monas di jantung ibukota negara Republik Indonesia adalah sebuah ejekan tak kentara terhadap sila pertama Pancasila. Monas adalah lambang Persetubuhan Suci yang dilakukan tanpa malu-malu di sekeliling rumah Tuhan. Dia mengejek Gereja Imanuel, dia mengejek Gereja Katedral, dan dia juga mengejek Masjid Istiqlal. Terhadap rumah Tuhan-rumah Tuhan yang mengelilinginya, Monas seakan mencibir, “Lihatlah aku, aku lebih tinggi dan lebih megah ketimbang kalian, dan yang pasti pengikutku lebih banyak dari penghuni kalian, hahahaha...”

Dan memang ada benarnya, Monas adalah simbol dari tabiat bangsa ini dari waktu ke waktu yang semakin tidak memiliki rasa malu. Di bawah naungannya, di antara rindangnya pepohonan dan rimbunnya semak-semak di sekitarnya, tidak siang tidak malam, banyak manusia yang melakukan ritus purba seperti yang ditunjukkan penyatuan Lingga dan Yoni, Monas. Kebanyakan pelakunya adalah muda-mudi yang tidak tahu diri dan tidak memiliki harga diri lagi.

Dan, rahasia Tugu Monas yang barangkali tidak dapat kita rasakan hingga saat ini adalah bentuk piramida silang Monas jika dilihat dari udara.

Sebelum adanya aplikasi Google Earth, tak banyak manusia yang dapat menyaksikan simbol pagan masyarakat purba (dan modern) dengan seksama seperti saat ini. Sebagai perbandingan, arahkan kursor peta Google Earth tepat di atas Piramida Giza di Kairo, Mesir. Kemudian alihkan kursor ke kota Jakarta tepat di atas komplek Tugu Monas. Jika silang Monas yang tampak dari atas tersebut kita anggap sebagai sisi-sisi piramida dan Tugu Monas yang berada tepat di tengahnya sebagai puncak piramida, terlihat ada kesamaan bentuk dan konsep antara Piramida Giza di Mesir dan ‘Piramida Monas’di Indonesia.